UAN dan Dampak yang ada

Disebuah berita televisi, “Seorang siswi di daerah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri hanya karena TIDAK LULUS UAN. Menurut keluarganya, korban sudah mengikuti UAN untuk kali kedua dan yang pertama korban tidak lulus. Setelah mengikuti UAN yang kedua ternyata hasilnya sama..”TIDAK LULUS”. Entah pengaruh apa yang mendorong siswi tersebut hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat Tragis”.

UAN atau Ujian Akhir Nasional memang masih membawa kontroversial di kalangan masyarakat kita, antara yang mendukung dan yang tidak. Dengan menetapkan standar nilai kelulusan, maka siswa yang mempunyai nilai dibawah rata-rata jangan berharap untuk bisa lulus. Bahkan pernah seorang Kepala Sekolah “rela” berbuat “kecurangan” dengan memberikan bocoran soal UAN kepada para siswanya, karena dia berharap anak didiknya bisa lulus semua. Bukannya dianggap pahlawan, malah dijebloskan ke penjara.

Pemerintah sudah seharusnya meninjau kembali kebijakan tersebut, jangan pernah menutup mata dan telinga dengan kasus-kasus yang timbul dari penerapan UAN ini. Satu nyawa yang melayang jangan pernah dianggap hal sepele. Apakah ada jaminan bahwa penerapan UAN ini akan membawa kualitas pendidikan di negri ini akan semakin baik? Sangat jauh panggang dan api, kemapa? karena selama ini UAN justru lebih dinilai sebagai “proyek” bagi dinas yang terkait. Dan selama inipun Pemerintah saya anggap tidak pernah SERIUS dalam membenahi sistem pendidikan dan perbaikan fasilitas pendidikan itu sendiri. Anggaran APBN yang 20% ( entah sudah diterapkan atau belum ) belum sepenuhnya mampu meng-cover sistem pendidikan Indonesia.

Sementara ujian Paket C yang ditawarkan sebagai solusi pemerintah untuk siswa yang tidak lulus UAN ternyata sertifikat kelulusannya tidak bisa membantu siswa untuk mencari pekerjaan ( khusunya bagi lulusan SMK atau SMU ). Karena dianggap masih dibawah standar. Sungguh Ironis!

10 Tanggapan

  1. Budaya yg terlalu mengagung-agungkan angka memang selalu berdampak negatif. Kemarin aku nonton berita tv, banyak siswa gak lulus gara2 pakai bocoran jawaban yg palsu. Weleh..weleh…

    Kasian mereka ( pelajar ), mereka sangat terbebani dengan UAN ini, apalagi yg dari keluarga gak mampu..bisa jadi kekurangan itu jadi pemicu semangat, tapi gak sedikit yang justru nambah beban baginya.

  2. yaaah begitulah kalo sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada nilai…🙄

    bagusnya gimana bu..?

  3. Masuk akal juga kalo begitu. Karena kalo sampe ga lulus 2 kali bisa stress. Tapi yang kemaren banyak juga yang lulus gara2 dapet bocoran soal entah dari mana. Maklum, bocoran ga susah di dapet sekarang kalau ada uang. Moga2 kejadian seperti ini ga terulang kembali.

  4. UN harus lebih ketat pengawasannya
    biar hasilnya benar2 benar
    pendidikan juga hars terjamin kualitas prosesnya
    biar ilmu benar2 benar tersampaikan🙂

    Kayaknya perlu ada Lembaga Pengawas Independen agar Pendidikan di negri ini beres, tapi lembaga ini bukan “projek” baru bagi oknum2 yang hanya ingin keuntungan diri semata.
    Thanks dah mampir

  5. hahhh ampe bunuh diri segala…

    Wah..itu baru yang ke-liput ama media, ntah berapa yg sesungguhnya.

  6. Salam
    duh miris banget ya, padahal tidak lulus bukan berarti kiamat, mungkin baiknya nanti ssbelum ujian mesti diberikan persipan mental dulu menghadapi segala kemungkinan🙂

  7. pendidikan kita masih sampai tahap hafalan.

    harapannya kedepannya bisa sampai ketaraf esensi dan hakikat.

    jadi ndak perlu lagi hapal-hapaln tahun dikeluarkan di ujian.🙂

  8. kalau boleh saya sedikit komentar, menyikapi pendidikan dinegara kita kayanya seperti kembali kedidikan belanda yang sifatnya dipaksa, tapi mau gak mau itulah usaha pemerintah agar pendidikan kita dapat bersaing dengan bangsa lain, seperti tempo dulu, mhon maaf ats kekurangannya slam

  9. Saya sekeluarga adalah salah satu korban Unas tahun 2007.

    Melakukan Unas dengan cara seperti ini adalah tindakan yang sangat tidak adil dan aniaya dimana siswa harus menjadi penerima HUKUMAN dari DOSA yang melibatkan banyak pihak, seperti guru, pengelola sekolah, orang tua dan Pemerintah sendiri?

    Belum lagi ukuran kelulusan lebih ditentukan oleh segelintir mata pelajaran dan HANYA SATU KALI SAJA. Memangnya sebuah proses 6 atau 3 tahun dari setumpuk mata pelajaran bisa dikerdilkan menjadi UNAS 3 atau 4 pelajaran?

    Apakah Matematika memiliki peran yang demikian penting dari PPKn, Agama ataupun Sejarah, sehingga jika nilainya dibawah ambang batas langsung rontok tidak peduli sebagus apa nilai yang lain?

    Bagaimana jika siswa bersangkutan tidak punya bakat di Matematika, apakah harus DIPAKSA suka dan mengejar nilai bagus di mata pelajaran tersebut?

    Inilah salah satu profil korban UNAS :
    http://adjiwigjoteruna.blogspot.com/2007/08/ujian-nasional-niat-baik-yang-menuai.html

  10. Aku cari2 buku bhs inggris sma kok susah sih. Apalagì mau download gratis krn skolahku gak ada internet. Rasanya cm skolah yg dikota deh yg beruntung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: