Omed-Omedan, Tradisi atau Pornoaksi

omed2.jpgBagi yang bukan orang Bali, tentu akan kaget melihat “tradisi” ini. bagaimana tidak, seorang laki-laki dan perempuan dipaksa berciuman didepan khalayak. Berikut petikan pernyataan ketua adat Banjar :

Kepala Adat Banjar, Wayan Sunarya menceritakan, tradisi omed omedan itu merupakan tradisi leluhur yang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya ritual ciuman massal itu dilakukan di Puri Oka.

Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh.

Pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda mudi. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar.

Dengan berjalan terhuyung-huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya.

Ajaibnya setelah itu raja kembali sehat seperti sediakala. Raja lalu mengeluarkan titah agar omed omedan harus dilaksanakan tiap hari raya nyepi. Namun pemerintah Belanda yang waktu itu menjajah gerah dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda mudi tersebut.

Warga yang taat adat tidak menghiraukan larangan Belanda dan tetap menggelar omed omedan. Namun tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi di tempat omed omedan biasa digelar.

”Akhirnya raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed omedan dilaksanakan kembali tapi sehari setelah Hari Raya Nyepi,” kata Wayan Sunarya kepada wartawan.

Bagaimana menurut anda? Kalau dalam Islam jelas kegiatan ini di larang keras.

7 Tanggapan

  1. Yah, itulah tradisi kita mas. Dalam pemikiran kita bisa saja itu dianggap porno, tapi dalam tradisi mereka itu dianggap menghormati budaya leluhur tanpa ada niat berporno didalamnya. Sama dengan orang Papua yang hanya mengenakan koteka atau rumbai-rumbai, bagi orang lain itu porno tapi bagi mereka itu tradisi.

    Jadi porno kata kita bisa berbeda dengan porno menurut nilai mereka.

  2. tambahan lagi :

    Masalahnya, nilai seperti apa yang akan dianut. Kita membiarkan keragaman itu sebagai ciri kita ATAU kita menyeragamkan semuanya termasuk nilai-nilainya. Kalau kita menyeragamkan, maka nilai seperti apa yang akan dipakai ?

    Nilai agama ? Saya malah nggak terlalu tau soal ini.

  3. Makasih Py, dah kasih comment, saya menghargai pendapat lo, memang sulit kalau sudah membicarakan antara agama dan budaya. Hanya saja menurut pribadi saya, agama tetaplah menjadi landasan dasar. Kalau kata orang SUMBAR sih, Adat basandi Sara’, Sara’ basandi Kitabullah.

  4. Menurut saya, beda agama ya beda tradisi. Tradisi Agama dan tradisi adat jelas beda. Simple.

  5. Oke Saylow…makasih dah kasih coment, I’m very impress it.

  6. hello…….
    budaya orang bali emang beda dari yang lain….
    sebelum ada UU porno aksi budaya ini mank udah ada…jadi gg perlu d anggep porno aksi!

  7. maaf..
    itu tradisi kami
    dan itu tradisi dari nenek moyang kami dan kami patut melaksanakannya..
    maaf jika tradisi itu membuat anda tidak nyaman..
    tapi itu lah adanya..
    dan ini bukan tradisi cium-ciuman.
    omed-omedan memiliki arti tarik menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: